Duka di Balik Operasi Aceh

Saya adalah jebolan Pendidikan dan Latihan Nasional Angkatan VI SAR Unhas. Dasar Ilmu biologi yang saya geluti di bangku kuliah saya pakai untuk mengajukan makalah bertema ‘tanaman berguna di jalur Lembanna – Ramma’, plus orientasi medan di puncak Gunung Gandang Dewata dengan ketinggian 3.074 m dpl untuk mengambil nomor keanggotaan saya dan dengan penuh perjuangan akhirnya saya berhak memakai slayer jingga dengan nomor registrasi keanggotaan 272.

Itu catatan saya dan tak dapat saya pungkiri bahwa bergabung di SAR Unhas telah memberi warna dan mengisi banyak bagian dalam cerita kehidupan saya. Bahkan membantu mentalku untuk semakin mandiri, serta banyak menunjang tugasku sebagai reporter. Paling tidak saya termasuk yang kuat jalan dan salah satu yang menarik diceritakan adalah pengalaman saat berada di Bumi Nangroe Aceh Darusallam selama 20 hari paska tsunami.

Kami berangkat dengan rombongan besar, sepuluh hari setelah bencana itu memorakporandakan Banda Aceh. Posko Sulawesi Selatan menempati rumah sakit Zainil Abidin di Jln. Daud Beureuh, Kota Banda Aceh. Kota itu telah lumpuh total akibat terendam. Kami menempati lantai dua yang masih utuh, sempat panik. Bahkan sebagian ada yang berlarian dengan menggunakan sleeping bag.

Saya bergabung dalam tim evakuasi dan satu-satunya wanita yang tergabung dalam tim ini. Saya juga tetap menjalankan tugas jurnalistik saya, yakni meliput dan mereportase setiap perkembangan Aceh selama berada di sana.

Untuk pertama kali dalam hidup saya menghadapi jumlah mayat yang berserakan begitu banyak. Padahal saat itu pemerintah telah mengumumkan Kota Banda Aceh tidak terdapat mayat lagi. Namun kenyataannya saat itu beberapa kompleks belum terjamah. Bahkan dihari pertama kami tiba kami mengevakuasi dua mayat yang berada di Taman Ratu Safiatuddin di dekat jalan protokol kota tersebut.

Setelah bergabung di tim SAR biasanya kami harus berhari-hari mencari mayat atau korban. Untung kalau dapat. Kadang kami harus pulang dengan tangan hampa seperti saat kami mencari korban perahu perairan Tanjung Buku Majene, saat kami mencari korban perahu tenggelam, kami harus berhari-hari mencari hingga menyisir perairan tersebut sampai berpuluh kilometer dari titik terakhir, namun kami tidak menemukan satupun dari 12 jumlah korban yang dinyatakan hilang, tapi saat di Aceh kami malah bingung yang mana yang lebih dahulu dievakuasi dan di masukkan ke dalam kantong mayat, saking banyaknya. Pernah sekali waktu jumlahnya lebih banyak dari jumlah kami yang satu regu kadang 12 orang. MasyaAllah !

Mayat yang kami temui pun sudah mulai membusuk walau hal tersebut bukanlah hal baru bagi kami tim SAR, namun kami harus toleransi bagi teman-teman yang berkeinginan bergabung dan ikut di tim lain.

Ada hal yang membuat perasaan sedih yakni beberapa remaja putri yang mendatangiku dan menanyakan bantuan pakaian dan pembalut wanita. Dalam kondisi kota yang porakporanda sehingga perekonomian lumpuh, tidak ada yang terfikir harus membeli dimana barang-barang seperti itu.

Itu catatan yang bisa saya sobek sedikit dari rekaman perjalanan saya.

Semoga di usia ke 25 tahun, SAR Unhas semakin profesional menghadapi tantangan dan berbenah untuk memberikan yang terbaik bagi kemanusiaan.

 

Penulis

Mismaya Al Khaerat

SAR 2720698-UH

Dikutip dari buku 25 Tahun SAR Universitas Hasanuddin, yang terbit pada tahun 2011.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *