Murka Tuhan di Bawakaraeng

Operasi perdana SAR Unhas boleh dibilang menggaung pada 5 Agustus 1987. Berita awal yang diterima, Umar Arsal, Ketua SAR Unhas pada saat itu mengalami kecelakaan di Desa Lembanna. Setelah saling menghubungi, tujuh orang yang terdiri dari Iwanov T Taihutu, Bambang Edy Nugroho, Toto Susanto, Fonda A Parowung, M. Revodi Ahmad, Fernando JP Karangan dan Frieds JP Karangan lalu berangkat ke lokasi. kelompok ini yang kemudian menjadi cikal bakal SRU 1 operasi.

Tiba di Desa Lembanna mereka disambut dengan angin yang sangat kencang bergerimis dengan kabut tebal setinggi dada. Ketika sampai di rumah Tata Muding, orang pertama yang mereka temui adalah Umar sendiri dalam keadaan sehat walafiat yang memberitahukan bahwa ada orang meninggal di Pos 8 Gunung Bawakaraeng.

setelah melakukan cek dan ricek berita ke Polsek Malino dan koordinasi dengan Dansat Brimob, Mayor Pol. Yusuf Manggabarani untuk segera melakukan operasi dan evakuasi, gayung bersambut. Dansat lalu bertindak sebagai SAR Mission Commander (SMC) dan menunjuk

Iwan sebagai Komandan Search and Rescue Unit (DanSRU) yang langsung menginstruksikan agar tidak seorang pun boleh naik pada saat itu dikarenakan dinginnya cuaca dan tekanan yang sangat rendah.

Keputusan ini membuat banyak pendaki yang telah datang berang karena dilarang untuk melakukan pendakian di Gunung Bawakaraeng. Keadaan sembat tegang karena Iwan bertaruh bila ada yang nekad, akan ada korban lagi. Setelah ditenangkan, mereka akhirnya mengerti keputusan itu. Keadaan yang sangat dingin di Desa Lembanna memaksa tim bergeser untuk bermalam di ruman Danrem Malino, Letkol Nanang Narundana. Keesokan harinya, 6 Agustus 1987, tim berangkat menuju Lembanna pada pukul 5 pagi dan tiba pukul 6 pagi. Cuaca tetap seperti kemarin, dengan kekuatan sekitar 65 orang yan

g terdiri dari SAR Unhas 20 orang dan Brimob 45 orang, tim dibagi menjadi 3 SRU dimana tiap SRU memiliki tugas masing-masing. SRU 1 bertugas mendaki ke puncak kemudian melakukan penyisiran ke bawah, SRU 2 bertugas mendaki dan mencari hingga pos 8, sedangkan SRU 3 mencari hingga pos 5.

Berdasarkan informasi yang didapat, pada korban adalah penduduk yang melakukan ritual Haji di puncak Gunung Bawakaraeng. Ketika SRU memasuki pos 5 pukul 10 pagi, pemandangan yang ditemui cukup memilukan. Sekitar 20an orang terbaring di pinggir jalan. Iwan sebagai DanSRU menghadapi 2 pilihan pelik, antara memobilisasi para korban ke Lembanna atau terus ke puncak. Hingga diputuskan pasukan Brimob berjaga dan memobilisasi mereka ke bawah sedangkan sisanya terus ke puncak. Sekitar pukul 12 ketika tiba di pos 8, tampak mayat-mayat bergelimpangan dan korban sekarat, SRU sempat panik bahkan putus asa dikarenakan banyaknya korban yang diluar perkiraan sehingga dengan sedikit paksaan, korban yang masih bisa jalan dipaksa jalan, sedangkan mayat dibawa turun.

Operasi hari kedua berakhir pukul 8 malam dengan 54 orang dipapah turun. Setelah dihitung, 12 orang meninggal dunia. Namun dalam perjalanan turun, salah seorang korban meninggal dunia dan dengan sangat terpaksa ditinggal di atas salah satu pohon di pos 6. Namun tubuh jenazah terlebih dahulu dibungkus. Hal itu terpaksa dilakukan karena besarnya badan korban dan kondisi tim yang sudah sangat drop. DanSRU memerintahkan bahwa tidak boleh ada seorang pun yang tinggal di gunung.

Ada peristiwa aneh pada saat evakuasi hari itu, dimana salah seorang mayat yang bertubuh sedang tidak bisa diangkat oleh enam orang, sehingga harus ditelanjangi dan hanya ditutup kain sarung saja.

Hari ketiga operasi 7 Agustus 1987, bantuan datang dari siswa SPN Batua dengan kekuatan 2 truk dan SAR UMI. Bahkan kapolda saat itupun yang dijabat oleh Brigjen Pol. IG Putra Astaman datang bersama jajarannya turut serta melakukan penyapuan korban ditemani oleh SAR Unhas dan siswa SPN, sekaligus mengevakuasi mayat yang ditinggal di pos 6.

Sampai hari terakhir operasi, tanggal 10 Agustus 1987, kegiatan yang dilakukan adalah menyisir daerah pegunungan Bawakaraeng demi mencari kemungkinan adanya korban lain. Selama operasi berlangsung, tim SAR Unhas sangat tertolong dengan bantuan Mayor Pol. Yusuf Manggabarani yang mendukung logistik ke lokasi operasi.

Masyarakat Desa Lembanna saat itu tidak mengizinkan seorang mayat pun untuk tinggal di Desa Lembanna. Mereka tidak setuju dengan kepercayaan para korban yang dianggap sebagai aliran sesat, sehingga jenazah para korban tadi di evakuasi ke Malino lewat jalur Kanreapia, sedangkan sisa korban yang selamat diizinkan untuk menginap.

Salah seorang jemaah yang diistirahatkan di Desa Lembanna merasa sangat lemas, sehingga diberi makan snack, namun ia mengalami sesak. Tim segera melakukan pertolongan pertama, namun agar lebih kompeten, DanSRU menghubungi dr. Faried Husein yang memandu untuk melakukan Tracheotomy lewat radio. Tapi Tuhan Yang Maha Esa berkehendak lain. Nyawa jamaah tersebut tidak dapat diselamatkan lagi, sehingga total keseluruhan korban meninggal adalah 13 orang.

Hari-hari sesudah berlangsungnya operasi, pagi di Desa Lembanna terasa lebih hangat dan cerah, yang oleh penduduk setempat menyebut kejadian itu sebagai pencucian dosa mereka yang telah menduakan Tuhan dengan melakukan ritual haji di atas gunung. Haji yang para jamaah lakukan pun tak ubahnya seperti ritual haji di tanah suci, seperti memakai pakaian ihram, mengelilingi “Kakbah”, lontar jumrah dan sebagainya.

Sesudah operasi, SAR Unhas dan Brimob lalu bersurat ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mengeluarkan larangan ritual haji ke puncak-puncak gunung karena hanya membawa korban jiwa saja. Tahun 1988, keluarlah peraturan pelarangan dari Polisi dan Pemerintah Kabupaten Gowa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *