Dari DIKLAT Ke DIKLAT

Catatan dari Diklat III

“Dimuat dalam harian pedoman Rakyat tanggal 5, 6, 7 dan 8 maret 1990:

Search And Rescue (SAR) Universitas Hasanuddin 10-28 Februari 1990 menyelenggarakan Pendidikan dan Latihan (Diklat) SAR Mahasiswa se-Indonesia Timur. Latihan teori dan praktek yang diterima peserta ternyata tidak ringan, dan menarik diketahui. Redaksi meminta jasa baik Muh. Taqwa Yunus yang ikut memantau pelaksanaan Diklat tersebut sejak awal hingga akhir, menuliskan suka duka peserta selama Diklat tersebut. Semoga bermanfaat! (Redaksi Pedoman Rakyat).”

Merambah hutan dengan kerlap-kerlip lampu senter

Secara tak terduga, saya diberi kesempatan untuk mengiringi Praktek Lapangan Pendidikan dan Latihan Search And Rescue (Diklat SAR) se-Indonesia Timur yang diselenggarakan oleh SAR Universitas Hasanuddin. Pemberitahuan itu sendiri, sangat mendadak. Hanya beberapa jam saja sebelum start di titik Entry point di posko SAR Unhas Tamalanrea.

Sebagai mantan wartawan, kesempatan itu tentu saja tidak saya sia-siakan. Naluri jurnalis saya mengatakan; Investigativ Reporting di lapangan dengan mengikuti segala aktifitas SAR tentu saja sangat asyik. Setidaknya, bagi saya kesempatan emas itu dapat saya jadikan ajang apresiasi jiwa petualangan saya. Dan tentu saja reportase di medan seperti itu tidak kalah menariknya dibanding beberapa perjalanan jurnalistik saya didalam maupun luar negeri.

Minggu (18/2), rombongan siswa diklat didampingi beberapa senior dari SAR Unhas berkumpul di posko Tamalanrea. Jumlah siswa tercatat 59 orang. Seniornya sendiri tercata 10 orang. Selain saya, wartawan yang juga diikutsertakan adalah Arifuddin dari SKK Identitas Unhas. Komandan Upacara yang melepas peserta, Hasanuddin Saleh, yang juga menjabat sebagai Perwira penanggung jawab lapangan pada Diklat ketiga ini.

Tepat pukul 08.00, rombongan pertama mulai dilepas. Sasaran pertama; mesjid di Kelurahan Kassi’e, Kecamatan Tamangapa. Mobil yang mengangkut peserta, truk dari Brimob, hanya mampu mengangkut 30 orang. Terpaksa evakuasi ke titik sasaran pertama dilakukan dua kali. Saya sendiri di drop pakai sepeda motor bersama beberapa senior lainnya.

Dari keterangan Faisal Mahyuddin, Ketua Panitia Diklat III ini, saya jadi tahu bahwa ada empat fase yang akan diujicobakan kepada para peserta. Fase pertama, akan dibina langsung oleh tenaga instruktur dari Rinif (Resimen Induk Infanteri) Kodam VII wirabuana. Materi yang disajikan oleh tenaga instruktur dari pakkatto ini, antara lain; membaca peta, teknik peta kompas di medan terbuka maupun di medan tertutup, Navigasi darat dan beberapa materi lain.

Pada fase kedua, peserta akan digiring ke laut. Lokasi latihan SAR Laut ini tepatnya di BPLPD Barombong. Selain itu, pulau-pulau di sekitar Barombong juga akan dijadikan area latihan. Materi yang disajikan untuk SAR laut ini antara lain; teknik navigasi laut, survival di laut, pengenalan dan praktek sarana SAR laut, penentuan sasaran dilepas, dan penguasaan medan di lautan bebas. Rangkaian materi SAR laut ini akan diakhiri dengan terjun bebas ke laut dengan sasaran pantai Losari yang berjarang satu kilometer.

Dari rentetan SAR laut, peserta akan digiring memasuki fase ketiga berupa SAR Udara. Untuk SAR ini, mereka akan dibimbing langsung oleh tenaga instruktur dari Pasukan Khas Skadron 466 TNI Angkatan Udara yang berpangkalan di Mandai. Dari pasukan elit Angkatan Udara ini, peserta akan dibekali materi rappelling (teknik meluncur dengan tali) di sungai arus deras, rappelling dengan pesawat helikopter, SAR udara dan navigasi udara.

Fase akhir dari latihan SAR ini, peserta akan diambil oleh satuan Brimob Polda Sulselra. Materi latihan yang disajikan oleh instruktur dari Brimob antara lain; teknik mountaineering (pendakian dengan bantuan tali), navigasi darat, SAR darat, teknik survival di hutan buas, dan escape dengan sasaran akhir kembali ke Posko Tamalanrea.

Dari sajian materi, nampak sekali bahwa upaya melahirkan anggota SAR yang siap pakai, memang tidak mudah. Beratnya medan latihan dan keterlibat empat unsur dari angkatan bersenjata kita, sekaligus menunjukkan perlunya ketangguhan fisik dan mental dari calon anggota untuk bisa menjadi anggota SAR. Tidak salah dan juga tidak berlebihan bila kita memasuki Posko SAR Unhsa Tamalanrea, maka mata kita akan dihadang oleh tulisan besar; Siapkan Fisik dan Mental Anda.

Setengah jam kemudian, kami tiba di titik sasaran pertama di Kassi’e. Di situ sudah menunggu tim instruktur dari Rinif yang di koordinir oleh Lettu Abd. Gapur. Selain beliau, instruktur lainnya masing-masing; Lettu IB Kasim, Serma Amiruddin dan Sertu Sudarman.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *