Dari DIKLAT Ke DIKLAT

Di gelap malam menembus lumpur sebetis

Tugas peserta hari ini, menyelesaikan peta kompas dengan gaya zig-za. Routenya; Bili-bili menuju Desa Bontote’ne Songkolo. Jarak tempuhnya lumayan jauh. Belum lagi banyakna gunung yang dijadikan sasaran latihan peta kompas, yang lumayan tinggi sekaligus memiliki medan yang cukup rapat.

Pagi itu, banyak senior SAR Unhas menuju ke Ujung Pandang guna menyelesaikan tugas yang belum tuntas. Walhasil, saya dilibatkan untuk menjadi penjaga pos. Di Km. 23, Desa Lanna, saya bersama Sersan Sudarman dan Theo menjaga pos sasaran pertama. Berkisar tiga kilo dari tempat kami bertugas, ada pos tambahan yang dijaga oleh Sersan Aminuddin dan Iwan. Sementara di Pos Cheking ada IB Kasim dan Budiarsa.

Rencananya, hari ini itu makan siang di Desa Bontote’ne Songkolo. Umar Arsal dan Ketua Panitia Faisal Mahyuddin sejak pagi tadi sudah berangkat ke Ujung Pandang untuk meminjam bivak dari Satuan Brimob dipakai bermalam di Barombong malam nanti, seusai serah terima antara Tim Instruktur Rinif dan Tim Instruktur BPLPD Barombong.

Sampai pukul 15.00, regu 7 yang seharusnya masuk melapor di pos saya, belum juga menampakkan diri. Padahal, sejak pukul 14.00 tadi, semua regu yang sebagian besar bukan untuk pos saya, sudah lewat. Walhasil, saya dan Theo sepakat untuk menyusul kelompok 7 di Gunung Bontote’ne. Sementara Sersan Sudarman tetap menjaga di pos untuk menjaring, siapa tahu mereka ternyata lewat dan tidak terlihat oleh kami berdua.

Ternyata, meski pendakian ke Gunung Bontote’ne sudah dibantu oleh rekan Iwanov yang sengaja menyisir sisi sebelah kiri gunung, kami belum juga berhasil menemukan anggota regu 7 yang diperkirakan beristirahat di puncak. Saya mengambil rute tepat di tengah, sedangkan Theo menyisir sisi kanan gunung. Hampir parau suara kami berteriak memanggil regu 7, tetapi ternyata tidak muncul jua. Kami lalu memutuskan untuk menunggu kembali di pos bawah.

Berkali-kali kami mengecek untuk menunggu regu 7 yang seharusnya sudah masuk melapor di pos jaga. Sersan Sudarman maupun Sersan Aminuddin sudang berulang kali bolak-balik dari pos jaga puncak gunung yang bersisian dengan home base Armed itu. Akhirnya, tatkala jam di arloji saya menunjukkan pukul 17.00, Edi yang mengendarai mobil Toyota FJ40 terbuka dengan identitas “Gurila II” bersama Sersan Sudarman, berhasil menemukan mereka di puncak gunung.

Sebab musabab keterlambatan mereka, ternyata dikarenakan banyaknya gunung yang tidak seharusnya mereka lewati, toh mereka lalui juga. Kesalahan ini disebabkan oleh jauhnya sasaran tembak pada bidikan kompas yang dilakukan oleh regu 7. Beberapa puncak gunung yang sebenarnya tidak untuk ditaklukkan, toh mereka lewati juga. Walhasil, mereka harus menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi. Padahal pada saat yang hampir sama, anggota regu lainnya sudah diberangkatkan menuju jembatan lama di Kab. Gowa guna berkumpul di jantung Kab. Gowa.

Setelah kami di drop di Desa Bontote’ne, Letnan Gapur memutuskan untuk menjemput kembali anggota regu 7 dengan menggunakan mobil milik Edi. Edi sendiri ditemani senior lain, Iwanov, berangkat kembali ke Desa Lanna di pos 23 untuk menjemput kembali anggota yang terlambat. Peserta lainnya, sejak tadi sudah diberangkatkan oleh Letnan IB Kasim. Hampir pukul 18.00, barulah mereka tiba di Desa Bontote’ne untuk disuguhi makan siang.

Karena keterlambatan regu 7 yang sangat tertinggal dari peserta lainnya padahal diharapkan semua peserta bisa masuk di pos sasaran jembatan lama paling telat pukul 19.30 malam itu, maka diputuskan untuk mendampingi mereka menghabiskan sisa perjalanan yang belum tuntas. Saya bersama Theo dan Sersan Sudarman kembali mendapatkan tugas menjadi pendamping.

Seraya berguyon, saya bertanya pada anggota regu 7 “Apakah kalian masih sanggup berjalan cepat menuju sasaran di jembatan lama yang berjarak 20 km dalam tempo sejam?” seorang anggota regu yang kebetulan utusan Universitas Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan menjawab, “Kami sanggup kok, kaki kami masih bisa berjalan!”.

Mendengar jawaban itu, saya kagum. Tidak sia-sia rasanya berjalan bersama, jika semangat menyelesaikan perjalanan yang tersisa masih tetap terpatri di dada mereka. Sambil jalan menuju pos sasaran, saya kembali mengejar dengan pertanyaan, mengapa mereka begitu antusias menyelesaikan keseluruhan paket latihan? jawabannya lagi-lagi mengagumkan. “Kami ingin melakukan sesuatu bagi orang banyak!” jawabnya terus terang.

Saya lalu teringat simbol yang membentang di pita bawah logo SAR Unhas. Di situ terbaca jelas, “Avignam Jagat Samagram”. Makna Adagium itu, kurang lebih berarti : Semoga damailah bumi ini dan seluruh isinya.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *