Dari DIKLAT Ke DIKLAT

Perjalanan di Desa Bontote’ne menuju sasaran Pos di jembatan lama di Kabupaten Gowa, tidak kalah menarik dengan perjalanan lainnya. Ini terutama karena kami tidak dibekali dengan alat kompas maupun peta sasaran yang dituju. Walhasil, kami berangkat hanya berpatokan pada pengalaman sambil mengira-ngira arah perjalanan.

Akibat tidak adanya penuntutan pasti tentang jalur maupun orientasi medan yang dilalui, kami hanya mampu mencoba meraba sasaran tujuan. Beruntung, di sebelah kiri kami membentang Sungai Je’neberang yang sudah pasti salah satu sisinya berada di bawah Jembatan Lama, Kabupaten Gowa. Setelah mencoba merambah hutan jati, lewat di pematang sawah orang, akhirya dalam kebingungan kami menyusuri jalur sungai Je’neberang.

Gelapnya malam sudah kian menyelimuti alam. Perjalanan kami yang belum pasti, diperparah oleh medan lumpur sebatas betis. Bisa dibayangkan betapa beratnya mengangkat kaki yang sudah tenggelam terjerembab di medan lumpur. Satu persatu anggota regu yang memang sudah agak kepayahan, diserang penyakit ngilu dan salah urat. Terutama bagi anggota yang tidak terbiasa bersepatu laras tentara, tentulah semakin mempersulit ruang gerak mereka.

Usai medan lumpur, kami masih harus melewati daerah hutan yang sisinya banyak ditumbuhi pohon pisang. Tidak terasa kaus kaki yang tadinya basah kuyup berjalan di lumpur, menjadi kering karena berjalan di pinggir hutan. Risikonya, kaki mulai pecah-pecah dimakan air. Seorang anggota putri di regu 7, reskiana, tidak tahan lagi akibat ngilu dan salah urat di pergelangan kakinya. Sersan Sudarman terpaksa turun tangan mengurut kaki Reski. Barulah setelah pijatan ampuh itu bereaksi, ia kembali mampu melanjutkan perjalanan yang tersisa.

Perjalanan yang mirip safari itu memang terasa berat bagi para anggota. Ini terutama bagi mereka yang tidak terbiasa berjalan jauh tanpa istirahat. Bagi kami yang kebetulan diminta mendampingi perjalanan seperti ini sudah bukan halangan lagi. Tentu lain halnya dengan peserta yang tidak terbiasa melakukan hal serupa. Tidak terasa, hampir sejam perjalanan, kami mulai bersua dengan pemukiman penduduk yang rumahnya dekat dari jalur sungai Je’neberang.

Dari informasi yang diberikan penduduk, kami jadi tahu kalau posisi kami sekarang tidak terlalu jauh dari tanggul sungai Je’neberang. Keberuntungan lain, salah seorang penduduk tanpa diminta, mau mengantar kami hingga ketanggul. Tanpa terasa menjelang pukul 19.45, kami sampai di Pos sasaran di Jembatan Lama, Kabupaten Gowa. Di sini sudah menunggu Letnan IB Kasim, Letnan Gapur dan peserta lain yang sudah lebih dahulu masuk serta para senior.

Di Pos Jembatan Lama, sekali lagi diadakan cheking anggota. Tidak makan tempo lama, perjalanan kembali dilanjutkan menuju Desa Panciro, desa yang menurut skenario dijadikan tempat makan malam sebelum menuju Barombong. Perjalanan dari Pos Jembatan Lama menuju Desa Panciro terasa menjemukan. Ini karena jalur perjalanan yang mesti di tempuh melewati jalan aspal yang menuju ke Kabupaten Je’neponto. Jam 21.00, semua peserta sudah masuk Desa Panciro, di sini peserta disambut senioren yang bertugas meladeni makan malam. Darmiah Husain, senioren yang bertanggungjawab untuk urusan konsumsi peserta tampak bersama senior lain seperti Mety, Sukma, Tuty, Illa dan Rezky.

Usai makan malam, pukul 22.15, peserta kembali diberangkatkan menuju Barombong, sebagai akhir dari ettape pertama. Di Barombong nanti, menurut rencana, akan dilakukan serah terima dari instruktur Rinif ke instruktur BPLPD, Barombong. Dari sini peserta mulai mengenal SAR laut. Perjalanan masuk Barombong yang kurang lebih 7 kilometer, ditempuh dalam tempo satu setengah jam perjalanan. Banyak peserta yang kakinya sudah sangat lelah, terpaksa hanya mampu berjalan tertatih-tatih untuk bisa sampai di bivak di Barombong.

Jam 24.00, semua rombongan peserta, senioren maupun instruktur sudah masuk di kawasan Diklat BPLPD Barombong. Hampis semua peserta berjalan pincang. Sebagian diantaranya, malah berjalan sambil mengikat kaki yang terpaksa di seret. Malam itu, sebelum upacara serah terima dilaksanakan, peserta masih diberi kesempatan untuk beristirahat sejenak di bivak. Sebagian peserta yang beragama islam, menyempatkan diri untuk menunaikan kewajiban shalat berjamaah di mesjid dalam kompleks BPLPD Barombong.

Sejam berikutnya, Hasanuddin memanggil rombongan peserta untuk mengikuti upacara serah terima dari tim instruktur Rinif ke tim instruktur BPLPD Barombong. Ditengah malam pekat pada upacara yang sedang berlangsung hikmat itu tiba-tiba dikagetkan dengan gugurnya seorang srikandi putri. Uni, peserta yang terbilang tegar dalam perjalanan, jatuh pingsan. Beberapa senior yang berseragam orange bertuliskan base Rescue Unhas, diantaranya langsung turun tangan menyelamatkan putri yang jatuh pingsan.

Tidak berselang lama, Muhammad Ali, peserta utusan Universitas Muslim Indonesia, juga jatuh pingsan, tidak mampu menanggung penat yang luar biasa. Peserta yang gugur ditempat upacara, segera disisihkan agar tidak meghalangi jalannya upacara serah terima dari SAR darat ke SAR laut. Pukul 02.30 subuh hari, diputuskan untuk mengistirahatkan semua peserta. Secara berseloroh Umar Arsal menimpali, “Kok hanya dua orang yang gugur. Mestinya bukan hanya dua orang, lebih banyak lagilah…”

Bivak yang disiapkan oleh panitia, ternyata hanya dua buah. Akibatnya senior putra maupun putri yang kebetulan hadir dimalam itu, tidak kebagian tempat. Sambil menunggu fajar merekah, banyak diantara mereka yang duduk atau baring di pinggiran dermaga hanya beratapkan langit, beralaskan tembok dingin dan berselimutkan embun. Menikmati bintang-bintang yang bertaburan di langit lepas.

Keesokan harinya, Hasanuddin langsung membangunkan peserta untuk melaksanakan menu sarapan pagi. Menu pertama hari itu, lari pagi keliling kompleks BPLPD dan senam pagi. Secara kebetulan, M Ali dan Ahmad, keduanya juga secara kebetulan merupakan utusan UMI, terlambat masuk barisan. Akibatnya mereka berdua mendapat hukuman nyemplung di kolam dekat dermaga BPLPD Barombong.

Siangnya, Mayor Hermono, tenaga instruktur dari PMI cabang Ujung Pandang datang untuk menyajikan materi P3K dan praktek penanggulangannya. Karena hujan rintik datang, mereka lalu masuk ruangan diklat BPLPD melakukan praktek disana. Sorenya, senior Zulfikar Syuaib datang dan langsung menggonjlok peserta dengan latihan PBB. Banyak peserta yang masih capek akibat Long March sebelumnya, dikenai sanksi push up atau scout jump.

Malam harinya, peserta disuguhi film tentang SAR laut di ruang Auditorium BPLPD Barombong. Mungkin karena penatnya, lagi pula malam itu mereka belum disuguhi makan malam, banyak peserta yang tertidur di kursi saat pertunjukan film berlangsung.

Pukul 22.00, usai bubaran dari nonton film, peserta di kumpulkan di dermaga untuk menikamti makan malam. Dengan langkah gontai, mereka berbaris guna menikmati sajian santap malam. Saking laparnya, tidak satupun peserta yang tidak menghabiskan makanannya. Dari tempat itu mereka langsung dibubarkan untuk beristirahat menyiapkan diri mengikuti acara SAR laut keesokan harinya.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *