Dari DIKLAT Ke DIKLAT

Sambil terjun, ada yang panggil: “Mamaa..!”

Fajar subuh belum lagi merekah di ufuk timur, Zulfikar sudah memimpin peserta untuk melakukan santapan lari-lari ringan diseputar kompleks. Habis lari keliling, Hasanuddin memimpin untuk melaksanakan senam pagi yang rutin dilakukan agar tetap prima mengikuti latihan. Hari itu, menurut skenario, peserta akan disuguhi latihan pengenalan sarana SAR laut untuk selanjutnya dirangkaikan dengan praktek di laut lepas.

Latihan navigasi laut yang dilanjutkan dengan peluncuran signal udara dilaksanakan di pinggir dermaga. Setelah itu mereka langsung digiring ke sekoci masing-masing untuk melaksanakan praktek dayung di laut ganas. Bagi peserta yang berasal dari keluarga nelayan, berangkat latihan ini tidak terlalu menarik. Lain halnya dengan mahasiswa yang tidak terbiasa, termasuk peserta dari luar Ujung Pandang, seperti dari Unair, Unlam, Unhalu maupun STIE Palu.

Tidak heran jika banyak peserta yang begitu antusias saat pembagian life jacket. Meski setelah itu harus bergotong royong mendorong sekoci dengan tulisan diisi butiran bernomor Barombong 3. Perwira latihan BPLPD Barombong yang bertanggung jawab atas latihan SAR laut hari itu adalah Kafaillah Arief. Selain beliau, perwira lain yang turut mendampingi adalah M Tahir Usemahu dan Johannis Loawo.

Saya bersama senior yang lain dan instruktur dari BPLPD diberi speed boat yang dikemudikan oleh Pak Amir. Sasaran kami, lego jangkar di kapal latih BPLPD Barombong yang berjarak lebih kurang 400 meter laut pantai Barombong. Di kapal latih itulah sasaran yang hendak dituju oleh kedua sekoci peserta, sebelum latihan terjun bebas di laut lepas dengan hanya mengandalkan bantuan life jacket.

Hanya berselang sejam setelah kami merapat di training ship bantuan pemerintah jepang kepada BPLPD Barombong, sekoci peserta mulai merapat ke sisi kapal. Siang itu, meski sengatan panas matahari membakar kulit, peserta dinaikkan ke kapal latih satu persatu untuk terus diterjunkan ke laut bebas. Meski jarak yang harus ditempuh tidak terbilang jauh, akan tetapi cukup banyak peserta yang ragu-ragu terjun. Kesulitan ini terutama dihadapi oleh peserta putri.

Ada peserta putri yang terpaksa berteriak memanggil mamanya sambil terjun ke laut lepas dengan mata tertutup. Histeria semacam ini juga ditemukan pada peserta putra yang tidak biasa “bermain” dengan laut. Beruntung bahwa peserta dari Unhas yang sebelum diterima sudah melewati jenjang saringan pra-diksar yang seleksinya cukup ketat, tidak seorang pun yang kaget tatkala diterjunkan ke laut lepas.

Yang tidak kalah anehnya, peserta putri yang sempat pingsan tatkala serah terima di malam pertama di Barombong, Masruni, masih sempat berdendang menyuarakan lagu-lagu romantis di tengah laut buas. Sikapnya itu, memberi semangat bagi peserta putri lainnya untuk tetap bersemangat menyelesaikan tugas latihan. Pukul 13.00 satu per satu Diklat SAR Mahasiswa se Intim mulai merapat di pangkalan dermaga BPLPD Barombong.

Peserta yang pertama merapat, Abd. Jabbar, Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unhas. Tidak mengherankan jika saja Jabbar yang duluan merapat ke pangkalan, soalnya Jabbar sejak kecil sudah berkecimpung di laut adalah juga peserta seleksi PON untuk cabang olah raga renang. Keseluruhan peserta berhasil mencapai finish di dermaga tepat pukul 16.00. Usai acara itu, semua peserta di istirahatkan untuk bersiap-siap menyongsong acara “melaut” malam nanti.

Malam hari, usai makan malam, rembulan tidak menampakkan sinarnya. sebaliknya, cuaca kelihatan kurang menguntungkan. Awan tebal yang kian menghitam, seperti mengancam akan memuntahkan hujan yang cukup deras. Seluruh peserta dikumpulkan di dermaga sebelum “di buang di laut lepas”. Umar Arsal yang menjabat koordinator Dewan Pertimbangan Organisasi dalam struktur kepengurusan SAR Unhas sejak tadi nampak sibuk mengatur segala kemungkinan yang mungkin terjadi.

Pasalnya, masih terdapat sisa trauma pada panitia akan aktvitas SAR laut. Karena saat pradiksar yang merupakan ajang seleksi terhadap calon anggota SAR yang diadakan untuk kalangan mahasiswa Unhas, seorang mahasiswa calon peserta meninggal ditelan danau Unhas. Saat itu, usai seleksi kesehatan dan psikotest, dilanjutkan dengan seleksi renang di Danau buatan kampus Unhas Tamalanrea. Ridwan B. Dauda, mahasiswa Fakultas Pertanian angkatan 1986 yang mencoba mengikuti seleksi calon anggota, terjebak dalam lumpur hidup di tengah danau buatan. Ridwan yang bahkan pandai berenang tak kuasa menantang alam berupa lumpur yang menyeretnya hingga gelagapan dan terkubur di Danau Tamalanrea. Kejadian meninggalnya Ridwan, memang sempat membuat shock Ketua panitia. Tapi toh, meski sudah menelan korban nyawa, kegiatan SAR laut tetap harus dilaksanakan.

Pukul 20.30 lebih sedikit, seluruh peserta berseragam hijau lumut, dengan dada terbungkus life jacket  berwarna orange, “dibuang” ke laut dengan sekoci masing-masing. Tiap sekoci hanya dibekali dengan layar yang mengantar sekoci melaju ke tengah laut lepas. Bias muka keseluruhan peserta tampak kian memucat, tegang bercampur ketakutan yang amat sangat. hal ini bisa dimaklumi, karena mereka hingga berakhirnya acara survival laut, tak tahu hendak dibawa kemana oleh arus laut yang cukup ganas.

Se jam berikutnya, rombongan senior diberangkatkan ke training ship (Kapal Latih) untuk mengiringi kegiatan SAR laut. Kapal latih BPLPD Barombong yang diserahkan oleh pemerintah Jepang sejak 1983, melego jangkar berkisar 400 meter dari pangkalan Barombong. Kapal yang sudah menghasilkan ratusan bahkan ribuan pelaut itu di nahkodai oleh Kafaillah Arief, Perwira BPLPD yang bertanggung jawab penuh terhadap jalannya acara SAR laut.

Setengah jam sebelum acara Dunia Dalam Berita, seluruh rombongan senior maupun instruktur dari BPLPD bergabung di kapal latih. banyak yang diantara teman-teman mancing, memanfaatkan kesempatan emas itu untuk menjaring ikan dari atas kapal. sebagian lagi, jika tidak menghabiskan waktu dengan bermain kartu atau bermain dam, pergi ke palka bawah untuk segera tidur menyongsong fajar esok harinya. Subuh harinya, kurang lebih pukul 03.00, atas perintah nahkoda Kafaillah, seluruh peserta diperintahkan merapat ke kapal latih untuk ditarik berlayar menuju pulau Samalona. Kurang lebih 400 meter dari pulau Samalona, kapal latih dan dua sekoci yang dipakai peserta diklat SAR ber-survival laut, lego jangkar. Sasaran pertama SAR laut tercapai sudah.

Usai sholat subuh saya sengaja ke buritan kapal “menjenguk” anak-anak peserta diklat. Fajar subuh di ufuk timur yang muncul perlahan melahirkan nuansa baru yang sangat indah dipandang mata. di buritan kapal, dua sekoci yang mengangkut peserta survival laut sudah mengekor dengan bantuan dua tali sebesar lengan. Wajah mereka, meskipun kuyuh, masih memperlihatkan semangat yang menyala-nyala guna dapat meneruskan kegiatan.

Sampai pagi datang menjelang peserta masih tetap diharuskan mengambil posisi di sekoci. menjelang datangnya terik matahari barulah atas perintah nahkoda Kafaillah, peserta di izinkan merapat dipulau Samalona guna melaksanakan kebutuhan hajat sehari-hari. Dengan riang, peserta diklat lantas mengayuh sekoci menuju Samalona.

Di Pantai, sempat-sempat juga para peserta berlakon sebagai turis domestik. banyak diantara mereka yang menyempatkan diri berjemur dipantai. Setelah menanggalkan life jacket.

Dua jam para peserta di izinkan merapat ke pesisir pantai Samalona. Saat jeda itu dimanfaatkan oleh Sukmawati Sinrang (Bendahara Diklat) untuk berangkat ke pantai Losari membeli sarapan pagi bagi para instruktur dan senior. Hari itu juga, direncakan untuk mendatangkan kru TVRI yang akan meliput kegiatan SAR Unhas untuk acara Universitaria.

Dari Pantai Samalona rombongan peserta kembali di jemput untuk merapat di buritan kapal latih. Skenario latihan insidentil yang berintikan teknik navigasi laut, kembali direncakan. Hari itu, menurut skenario berdasarkan perintah dari KKR III (Kantor Koordinasi Rescue III) yang berpangkalan di Lanud Mandai, diinformasikan bahwa terjadi kecelakaan laut di lintang selatan 05 derajat 5 menit, Bujur Timur 19 menit 30 detik di dekat pulau Barrang Caddi. Peserta Diklat di perintahkan untuk melakukan tindakan SAR dengan menjemput korban di lokasi yang sudah ditentukan.

Lima menit kemudian setelah perintah dikeluarkan, dua sekoci yang mengangkut peserta segera diluncurkan menuju sasaran. Jarak antara Pulau Samalona dengan Pulau Barrang Caddi berkisar 3 mil laut. Menurut rasio, jarak antara kedua pulau itu, dapat dicapai dengan mendayung sekoci se jam lamanya. Meski begitu, ternyata, jarak tubaru dapat ditempuh setelah para siswa mengayuh biduk lebih dari se jam.

Di Pulau Barrang Caddi, peserta Diklat kembali diistirahatkan sebelum dijemput oleh kapal latih. Sementara “Tim SAR” yang beranggotakan peserta Diklat meluncur ke titik sasaran, kami yang menumpang di kapal latih tetap melego jangkar di dekat pulau Samalona. Menurut nahkoda Kafaillah, kami di instruksikan untuk menunggu koordinasi selanjutnya dengan pihak KPLP maupun LANAL yang bertanggung jawab atas latihan SAR laut ini.

Saat terik matahari kian menyengat, kapal yang mengangkut tim KPLP dengan sisi buritan KPLP dengan nomor sisi buritan KPLP-KM 414 merapat ke kapal latih yang menjadi pusat komando latihan SAR laut. Setelah lobbying sebentar, diputuskan untuk kembali menjemput peserta Diklat di Pulau Barrang Caddi guna mengantar mereka merapat menuju sasaran akhir SAR laut berkisar satu kilometer sebelum Pantai Losari, Ujung Pandang.

Jarak tempuh antara Barrang Caddi dengan Pantai Losari sendiri berkisar 8 mil laut. Dari pulau ini, rombongan peserta yang ditarik dengan dua buah kapal, diperkirakan mendekati pantai berkisar 1 km. Itupun, jarak antara pantai Losari dengan tempat lego jangar mesti diperhitungkan, berkisar 1 km. Jarak ini sengaja dibuat untuk dijadikan pangkalan penerjunan siswa menjelang acara terjun bebas ke laut lepas, sebagai acara akhir dari ettape  SAR laut ini.

Satu per satu peserta kembali “di buang” ke laut. Acara ini terbilang sulit. Selain karena tenaga rata-rata peserta terkuras habis setelah empat hari empat malam mengikuti paket acara, berenang ke pantai Losari juga akan menguras tenaga yang cukup banyak. Walhasil, seorang peserta Diklat yang merasa tidak sanggup lagi mengikuti paket latihan, secara terpaksa harus mengundurkan diri. Jumlah keseluruhan peserta Diklat yang tadinya hanya berjumlah 59 orang, sisa 58 orang saja.

Tenaga instruktur dan senior lain diberangkatkan menuju sasaran akhir dipantai Losari dengan speed boat yang dikemudikan oleh pak Amir. Dengan lincah pak Amir membuat gerakan patah-patah sebelum merapatkan speed nya di Losari. Di tempat ini sudah banyak orang yang menunggu. Selain senior SAR Unhas, tim instruktur dari pasukan Khas Skadron 466 Angkatan Udara, juga jubelan penonton yang menyelimut disepanjang pantai Losari menikmati pemandangan baru.

Lagi-lagi Abdul Jabbar yang menjuarai acara renang bebas ini. Dia menjadi peserta pertama yang merapat ke pinggir pantai, sebelum diistirahatkan di sisi mobil truk bantuan Brimob yang sejak tadi menunggu di tepi pantai. Di tempat ini juga, saya bertemu dengan Drs. M. Dahlan Abubakar, wartawan Pedoman Rakyat, yang menjabat sekretaris Umum PWI Cabang Sulawesi Selatan. Dahlan datang ke pantai untuk meliput acara diklat SAR Unhas.

Acara dilanjutkan dengan upacara serah terima dari tim instruktur BPLPD Barombong ke tim instruktur Paskhas AURI. acara ini juga sekaligus menandai perubahan dari latihan SAR Laut menjadi Latihan SAR Udara. Pukul 15.00 seluruh peserta sudah masuk di pos cheking terakhir. Dalam acara serah terima di sore hari itu, Wakil Direktur BPLPD, Yohannis, Menyerahkan sendiri tanggungjawab pelaksanaan latihan SAR ke tangan Kapten Pnb. Hindarto dari satuan Pasukan Khas Skadron 466 AURI sebagai penanggungjawab latihan SAR Udara.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *