Dari DIKLAT Ke DIKLAT

Menikmati Fasilitas Helikopter

Usai upacara serah terima dari Pak Yohannis (instruktur BPLPD Barombong)ke Kapten Pnb. Hindarto (koordinator Instruktur Paskhas), peserta lantas digiring menuju Desa Amaran. Ada dua kendaraan yang digunakan untuk mengevakuasi rombongan dari Losari ke desa tujuan. Rombongan pertama menumpang mobil truk bantuan Brimob, sedangkan rombongan kedua menggunakan mobil Banpres milik Universitas Hasanuddin.

Saya beserta senior Umar, Gegen, Hasanuddin dan Ketua Panitia Faisal Mahyuddin, mendampingi peserta dimobil kedua. Saking lelahnya mengikuti materi SAR Laut, banyak peserta yang tak tahan kantuk., tertidur saat mobil merangkak menuju desa sasaran. Sebelum masuk Desa Amaran, Kab. Maros, diputuskan untuk singgah di Pangkalan Udara (Lanud) MAndai, tempat Pasukan Khas Skadron 466 TNI Angkatan Udara Bermarkas. Ditenpat ini kami menjemput tim instruktur yang akan mendampingi peserta selama latihan SAR Udara.

Kapten Hindarto bersama stafnya, Ruslani, Sues Mutoro, Suhadi, Sutrisno, dan Sri Padmono, sudah sejak tadi menunggu. mereka tampak gagah dengan pakaian seragam Paskhas (loreng lapangan dan kaos hijau). Dipinggang masing-masing , tersandang sepucuk pistol FN, sangkur, webbing, carbiner, dan peralatan meluncur lain. Materi yang akan diprioritaskan nanti, memang lebih banyak berkisar teknik rappeling (meluncur dari ketinggian dengan bantuan tali statik).

Setelah mengambil venyl heli dan beberapa sarana penunjang latihan lain, rombongan lantas diberangkatkan menuju desa sasaran. Tiba disana pukul 17.45. Rombongan pertama dengan bantuan mobil truk Brimob, sudah lebih dulu megambil posisi di sebelah barat pasar Desa Amarang. Sore itu, sebelum pasukan peserta diklat diistirahatkan, dilakukan upacara “selamat datang” dengan Irup Kapten Hindarto, sekaligus cheking anggota.

Ternyata, ada dua peserta diklat yang telah hadir. Resikonya, mereka diperintahkan melakukan scout jump hingga lutut mereka tidak mampu lagi terangkat. “Kalau tidak disiplin, resikonya memang berat”, komentar Pak Hindarto.

Usai upacara, peserta diberi kesempatan mengenali “hotel” tempat menginap. Hotel yang dimaksudkan, ternyata Los pasar desa, yang dimanfaatkan sekali seminggu. Usai Orientasi medan, peserta diperkenankan beristirahat sembari bersiap-siap mengikuti apel malam nanti. Habis apel malam, saya beserta tim instruktur paskhas, menghangatkan diri di warung kopi didepan pasar. Didepan kami, secangkir sarabba panas untuk masing-masing ditimpali sepiring pisang dan bakara goreng. Malam itu, ransum makan malam belum datang. Sembari menanti, saya berpasangan dengan Daniel bermain domino melawan pasangan tim Paskhas. Permainan kami tergolong antik, karena yang kalah kena sanksi push up . skor malam itu satu-satu.

Permainan kami berakhir, tatkala kiriman ransum datang diantar Edi. mobil “Gurila II” masuk dengan sembilan orang senior tambahan. Ransum itu sekaligus jatah konsumsi terakhir yang disuguhkan panitia. Besok, jatah konsumsi akan diatur oleh Dapur Umum Paskhas.

Hari ini, Jumat, rasanya waktu latihan sangat sedikit. subuh hari, peserta tetap mendapat menu lari dan keliling dan senam pagi. Latihan senam pagi itu diarahkan oleh Mas Sutrisno dan kawan-kawan dari Paskhas. Zulfikar dan Hasanuddin, tetap menjalankan tugas sebagai pendamping instruktur.

Sarapan pagi hari itu, datang dengan menggunakan jeep paskhas. Menunya, nasi putih, sayur kacang pangjang, dan sepotong telur dadar. Dari jauh, Aromanya mudah tercium. Meski nikmat, peserta sarapan sangat sedikit.”Ini karena pagi tadi banyak anak-anak jajan diwarung),” tukas Hindarto.

Hari itu, rencana latihan rappeling, lokasinya dibawah jembatan gantung di sebelah utara pasar. kebetulan, air sungai sedang tidak meluap. itupun kedalamannya menghampiri 2m. jika sedang meluap bisa lebih. di bawah jembatan, empat buah tali statik menjulur sepanjang 25 meter. Rencananya lathan akan berlangsung hingga menjelang shalat Jumat. ada dua teknik rappeling yang akan diperagakan. Selain model tengadah ke atas, model yang satunya lagi mengharuskan kita menelungkup menjurus ke arus sungai. Delapan meter dari sasaran jatuh, dipasang tali pengaman (safety rape) , yang membentang menjembatani kedua sisi sungai.

Selain rappeling dibawah jembatan gantung, tim instruktur Paskhas juga menyiapkan tali untuk teknik rappeling di rimbunan pohon. Menjelang acara peluncuran, Sersah Suhadi dan instruktur lainnya sengaja memberi contoh teknik peluncuran yang benar kepada peserta. Praktek rappeling ini berlangsung sehari penuh.

Malam harinya peserta digiring untuk beradaptasi dengan alam bebas, di pucang gunung Gandrang-gandrang,disebelah Barat Desa Amarang. mereka dikawal trio-“S” dari tim instruktur Paskhas, selain senior Reski dan Hasanuddin. Trio “S” itu adalah Sues Mutoro, Sutrisno, dan Sri Padmono.

Menjelang pertengahan malam, gerimis mengguyur bumi Desa Amarang. Meski begitu, peserta “diharamkan” meninggalkan lokasi pucak gunung. Subuh harinya, barulah mereka turun gunung, sekaligus diperintahkan untuk melakukan long march menuju lapangan tembak disekitar Pangkalan Mandai. Dilapangan tembak ini, menurut skenario, akan dilakukan demonstrasi rappeling dari pesawat helikopter.

Rombongan yang malma sebelumnya masih standby di Desa Amarang, meluncur ke Lanud dengan menumpang  pete-pete, pukul 07.30, keesokan harinya. Hindarto sempat wanti-wanti untuk menyiapkan segala perlengkapan meluncur siang nanti. Seperangkat webbing, carbiner lock, tali statik, maupun seat harnest, menjadi kawan meluncur yang tidak boleh diabaikan.

Ketergantungan kami akan alat itu, memang sangat tinggi. Bisa di maklumi, untuk meluncur nanti, nyawa adalah taruhannya. Dan kami tidak mau kehilangan nyawa yang cuma satu-satunya, hanya karena alpa akan alat meluncur itu. Rombongan kami tiba dilapangan tembak sejak pukul 08.05. Ternyata, kelompok peserta yang long march tadi, belum juga tiba. Walhasil, kami terpaksa menunggu cukup lama sebelum memulai acara penerjunan.

Pukul 09.00, saya menemani Sersan Ruslani dan Sersan Suhadi menuju pangkalan untuk “menjemput” heli yang akan digunakan untuk demo. Heli Puma berwarna hijau gelap itu bernomor sirip HT-3315. Pilot dan co-pilot yang akan menerbangkannya, Kapten Pnb. Suarnodan Letnan Pnb. Didi Sutiyono ditambah beberapa awak mekanik.

Berdasarkan skenario peluncuran, disisi kiri maupun kanan heli, di gandoli tali statik sepanjang 40 meter. Sersan Ruslanibertugas sebagai jumping mater disebelah kiri, sedangkan Sersan Suhadi di sisi kanan. Saya bersiap-siap mengambil gambar dari perut pesawat heli.

Pukul 13.00, usai makan siang, praktek rappeling dimulai. sebelum diuji cobakan pada peserta, instruktur Ruslani maupun Suhadi, dijadikan “kelinci percobaan”. Alhamdulillah tali yang menjulur di kedua sisi heli cukup mulus untuk dipakai meluncur. Peserta yang baru saja tiba dari long march, terpesona memandang pesawat yang mendarat mulus ditengah lapangan. Saya kira, sebagian besar dikalangan mereka baru kali ini terbang bersama pesawat heli.

Saya mencoba melirik wajah peserta satu per satu, kelihat dari raut muka mereka, antara keinginan mencoba terbang dengan heli dan ketakutan salah terjun nanti. Kalau salah meluncur, resikonya memang nyawa. Pertarungan kehendak ini terus berlangsung, hingga akhirnyainstruktur memanggil nama mereka satu per satu.

Acara terjun berlangsung mulus hingga sore harinya. Letkol Pnb.Sutrisno SP (Ka Dinas Operasi Lanud) sendiri yang melepas peserta dalam upacara penerjunan. Ditengah berlangsunnya acara, kepala KKR (Kantor Koordinasi Rescue) III, Kolonel Pnb. Zaenal Abidin datang menjenguk peserta latihan. Kunjungan ini dengan sendirinya menambah semangat berlatih. Sore ini, latihan diakhiri dengan praktek penguasaan Hois (mengangkat korban dengan alat khusus yang dipasang pada pesawat). Latihan ini bertujuan mempraktekkan evakuasi korban dari lokasi musibah ke tempat yang aman.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *